Selasa, 27 Februari 2018

Jagalah Rahasiamu

Aku melihat banyak orang tidak kuasa menyebar rahasia meraka. Kalau rahasia mereka menjadi tampak, merekapun mencela orang yang memberitakannya.

Sungguh aneh ! Bagaimana mereka bisa merasa berat untuk menyimpan rahasianya dan merasa gusar dengan orang yang menyebarkannya ?

Sungguh.. jiwa ini memang susah menyembunyikan sesuatu, dan merasa nyaman membocorkan rahasianya, terlebih lagi bila itu merupakan penyakit, kegundahan, atau kerinduan. Mereka beranggapan ini semua wajar bila dibocorkan. Yang harus dirahasiakan adalah sesuatu siasat dari seseorang yang ingin dia realisasikan untuk tujuan tertentu. Karena dengan membocorkan sebelum semua terwujud dengan sempurna, maka gagallah apa yang ingin mereka wujudkan. Dan tidak ada udzhur (alasan) bagi orang yang menyebarkan berita seperti ini.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri bila ingin melakukan sesuatu perjalanan (untuk berperang), beliau menyamarkan hal tersebut dan menampakkan hal selainnya. {Muttafaq ‘alaihi, diriwayatkan oleh Bukhari No.2947, Muslim No.2769}

Bila ada yang berkata, “Aku hanya menceritakan kepada orang yang terpercaya.” Maka dikatakan kepadanya, “Semua pembicaraan melebihi dua orang itu sudah tersebar beritanya. Bisa saja orang yang engkau beritahukan itu tidak bisa menyembunyikan rahasiamu.

Orang yang pikirannya mantab itu adalah orang rahasianya tidak tersebar kepada lainnya, dan dia juga tidak menyebarkannya kepada siapapun.”

Menutupi musibah termasuk dalam menyembunyikan rahasia, karena menampakkannya akan membuat senang musuh dan orang yang dengki. Sementara itu hal tersebut akan membuat orang yang mencintainya sedih dan berduka.

Mungkin seseorang melihat keikhlasan dan ketulusan dari temannya, lalu ia menyebarkan rahasianya. Dalam sebuah syair disenandungkan ;

Waspadalah terhadap musuh satu kali...
Tapi takutlah terhadap temanmu seribu kali...
Karena mungkin saja si teman berbalik menjadi musuh..
Maka dia lebih tahu dengan titik-titik yang akan mencelakakanmu…

Sumber Hal.136 #lisan

Selasa, 12 Desember 2017

Itiak Lado Hijau

Sore tadi istri saya bersama dua kakak perempuannya (ipar saya) masak-masak dirumah. Ternyata yang mereka masak itu adalah Gulai Itiak Lado Hijau, dan itu adalah kesukaan kami semua. Sebuah masakan khas Sumatra Barat yang bahan pokoknya adalah bebek digulai pakai cabe hijau dengan bumbu khas tersendiri.

Awalnya saya heran, tumben-tumben juga kompak bertiga. Dalam rangka apa ini ? Eh, ternyata alasannya adalah ipar saya yang kedua ini taragak saja. Malah beliau yang traktir potong bebek sampai 3 ekor, sementara istri sama ipar saya satu lagi cuma diminta bantu beresin bebek yang akan dimasak. Sedangkan untuk pengolahan dilakukan secara barengan.

Hasil masakan yang sudah jadi itu saya cicipi pas makan malam barusan. Rasanya enak dan pas sekali di lidah. Kalau boleh saya katakan promisi, itiak lado hijau hasil keroyokan ini juga tidak kalah juga dengan itiak lado hijau yang di jual di Koto Gadang.

Namun ada yang aneh. Tiba-tiba saja kok saya mulai berpikiran komersil gitu ya? Ya., Terlintas dalam benak saya namanya Itiak Lado Hijau dari Bandar Purus… Halah…! 😀

Rabu, 29 November 2017

Bikin Tulisan Yang Pendek Saja

Barusan saya berkunjung ke blognya pak Satria Dharma. Ini bukan kunjungan yang hanya sekedar iseng atau nyasar, tapi memang sengaja saya niatkan.

Tentang keberadaan blog tersebut, saya juga baru tahu dari sebuah link yang saya dapat di salah satu blog yang juga sedang saya ikuti . Dari hasil berkunjung sekilas ternyata tulisan-tulisan beliau tersebut cukup renyah dan bikin adem.. Bahasanya beliau sederhana dengan gaya yang menurut saya khas dan cukup enerjik.

Setelah membaca beberapa postingan, sampai juga saya ke salah satu postingan yang judulnya, "Dua Keuntungan Anies". Dalam postingan tersebut beliau bercerita tentang faktor kemenangan pak Anies di Pilkada DKI lewat. Tapi untuk postingan ini, saya tidak membahas substansi dari postingan tersebut, karena yang menarik perhatian saya adalah tentang apa yang beliau nyatakan di dua paragraf terakhir, dan itu saya sepakat. Berikut potongan paragaraf tersebut :

Nah, ternyata tidak saya saja yang berpikiran demikian seperti yang pernah saya posting sebelumnya, "Memancing Pembaca" Beliau pun juga berkesimpulan sama kalau pembaca online itu kebanyakan cepat bosan dengan tulisan yang panjang-panjang. Mereka itu cuma pengen cepat-cepat saja. Termasuk saya juga salah satunya.. Hehehe..

Dari cuplikan paragraf tersebutlah saya kembali tercerahkan lagi agar tidak hanya sekedar berlatih menulis dengan lancar saja, tapi bagaimana tulisan saya itu bisa sesingkat mungkin, tidak berputar-putar, namun maksud dan tujuan penulisan bisa tersampaikan dengan jelas, dan pembacapun paham.

Terimakasih Pak Satria.  :)

Selasa, 28 November 2017

Antara Facebook dan Blog

Beberapa bulan belakangan sepertinya saya senang sekali menikmati tulisan para penulis kreatif yang sekarang ini banyak beredar di FB, baik itu berupa tulisan di status, ataupun yang di posting lewat fanpage. Saya menikmati karena tulisan yang hanya terdiri dari beberapa paragraf tersebut bisa disajikan sederhana, sehingga tidak harus mikir lama untuk mengerti. Yang menarik lainnya adalah poin yang disampaikan juga cendrung sesuai dengan kondisi kekinian.

Entah mengapa muncul saja pertanyaan di kepala saya. Mengapa para penulis tersebut tidak menuangkan kembali tulisan mereka lewat blog? Menurut saya seperti ini disayangkan saja, karena tulisan pencerahan tersebut akan tenggelam oleh status-status yang baru, apalagi jika sudah berumur tahunan. Tentunya akan susah ditelusuri kembali dan gampang terlupakan.

Hemat saya, mungkin ini bisa jadi pertimbangan bagi penulis di FB. Tujuannya agar bagaimana tulisan lama itu mudah diakses lagi bagi yang butuh. Terserah bagaimana teknisnya. Apakah itu menulis langsung di blog kemudian baru di bagikan lewat FB, atau bisa juga dengan membackup tulisan-tulisan yang di telah posting di FB tersebut di blog yang sudah disiapkan sebelumnya.

Ini hanya pendapat saya pribadi. Maksud saya disini hanya agar bagaimana tulisan-tulisan tersebut bisa lebih terkelola dengan baik, dan penulis pun bisa tetap lekat terus di hati pembaca. :)