Selasa, 12 Desember 2017

Itiak Lado Hijau

Sore tadi istri saya bersama dua kakak perempuannya (ipar saya) masak-masak dirumah. Ternyata yang mereka masak itu adalah Gulai Itiak Lado Hijau, dan itu adalah kesukaan kami semua. Sebuah masakan khas Sumatra Barat yang bahan pokoknya adalah bebek digulai pakai cabe hijau dengan bumbu khas tersendiri.

Awalnya saya heran, tumben-tumben juga kompak bertiga. Dalam rangka apa ini ? Eh, ternyata alasannya adalah ipar saya yang kedua ini taragak saja. Malah beliau yang traktir potong bebek sampai 3 ekor, sementara istri sama ipar saya satu lagi cuma diminta bantu beresin bebek yang akan dimasak. Sedangkan untuk pengolahan dilakukan secara barengan.

Hasil masakan yang sudah jadi itu saya cicipi pas makan malam barusan. Rasanya enak dan pas sekali di lidah. Kalau boleh saya katakan promisi, itiak lado hijau hasil keroyokan ini juga tidak kalah juga dengan itiak lado hijau yang di jual di Koto Gadang.

Namun ada yang aneh. Tiba-tiba saja kok saya mulai berpikiran komersil gitu ya? Ya., Terlintas dalam benak saya namanya Itiak Lado Hijau dari Bandar Purus… Halah…! 😀

Rabu, 29 November 2017

Bikin Tulisan Yang Pendek Saja

Barusan saya berkunjung ke blognya pak Satria Dharma. Ini bukan kunjungan yang hanya sekedar iseng atau nyasar, tapi memang sengaja saya niatkan.

Tentang keberadaan blog tersebut, saya juga baru tahu dari sebuah link yang saya dapat di salah satu blog yang juga sedang saya ikuti . Dari hasil berkunjung sekilas ternyata tulisan-tulisan beliau tersebut cukup renyah dan bikin adem.. Bahasanya beliau sederhana dengan gaya yang menurut saya khas dan cukup enerjik.

Setelah membaca beberapa postingan, sampai juga saya ke salah satu postingan yang judulnya, "Dua Keuntungan Anies". Dalam postingan tersebut beliau bercerita tentang faktor kemenangan pak Anies di Pilkada DKI lewat. Tapi untuk postingan ini, saya tidak membahas substansi dari postingan tersebut, karena yang menarik perhatian saya adalah tentang apa yang beliau nyatakan di dua paragraf terakhir, dan itu saya sepakat. Berikut potongan paragaraf tersebut :

Nah, ternyata tidak saya saja yang berpikiran demikian seperti yang pernah saya posting sebelumnya, "Memancing Pembaca" Beliau pun juga berkesimpulan sama kalau pembaca online itu kebanyakan cepat bosan dengan tulisan yang panjang-panjang. Mereka itu cuma pengen cepat-cepat saja. Termasuk saya juga salah satunya.. Hehehe..

Dari cuplikan paragraf tersebutlah saya kembali tercerahkan lagi agar tidak hanya sekedar berlatih menulis dengan lancar saja, tapi bagaimana tulisan saya itu bisa sesingkat mungkin, tidak berputar-putar, namun maksud dan tujuan penulisan bisa tersampaikan dengan jelas, dan pembacapun paham.

Terimakasih Pak Satria.  :)

Selasa, 28 November 2017

Antara Facebook dan Blog

Beberapa bulan belakangan sepertinya saya senang sekali menikmati tulisan para penulis kreatif yang sekarang ini banyak beredar di FB, baik itu berupa tulisan di status, ataupun yang di posting lewat fanpage. Saya menikmati karena tulisan yang hanya terdiri dari beberapa paragraf tersebut bisa disajikan sederhana, sehingga tidak harus mikir lama untuk mengerti. Yang menarik lainnya adalah poin yang disampaikan juga cendrung sesuai dengan kondisi kekinian.

Entah mengapa muncul saja pertanyaan di kepala saya. Mengapa para penulis tersebut tidak menuangkan kembali tulisan mereka lewat blog? Menurut saya seperti ini disayangkan saja, karena tulisan pencerahan tersebut akan tenggelam oleh status-status yang baru, apalagi jika sudah berumur tahunan. Tentunya akan susah ditelusuri kembali dan gampang terlupakan.

Hemat saya, mungkin ini bisa jadi pertimbangan bagi penulis di FB. Tujuannya agar bagaimana tulisan lama itu mudah diakses lagi bagi yang butuh. Terserah bagaimana teknisnya. Apakah itu menulis langsung di blog kemudian baru di bagikan lewat FB, atau bisa juga dengan membackup tulisan-tulisan yang di telah posting di FB tersebut di blog yang sudah disiapkan sebelumnya.

Ini hanya pendapat saya pribadi. Maksud saya disini hanya agar bagaimana tulisan-tulisan tersebut bisa lebih terkelola dengan baik, dan penulis pun bisa tetap lekat terus di hati pembaca. :)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Lemah Kemauan

"Orang kurang akal dinamai bodoh. Orang yang tidak ada rasa kasihan dinamai kejam. Tetapi orang yang tidak ada kemauan, tidak patut diberi nama manusia lagi. Banyak yang jatuh sengsara, melarat, hina, dan papa, dan bila diselidiki ternyata penyebab yang paling besar yang menimpa dirinnya tersebut adalah tidak punya kemauan. Mereka tidak tau bagaimana cara berdiri tegak dalam memperjuangkan hidup. Bukan karena kurang pertolongan, tapi karena kekurangan kekuatan. Pertolongan cukup, kekuatan penuh, dan lapangan perjuangan maha luas. Cuma dia tidak mau menempuh, sehingga akhir perjalanannya adalah menuju lobang yang dia gali sendiri."

Paragraf diatas bukan kata atau dari pemikiran saya, tapi dari Buya Hamka. Keras sekali. Tapi kalau di inok-inokan lagi, benar apa yang beliau disampaikan itu. Tidak bertele-tele, tapi pas ! Semoga Allah merahmatimu Buya..

Kamis, 05 Oktober 2017

Bukan Menjadikanmu Pendiam

Dalam kesemrawutan, diam itu berharga seperti emas, namun berat diterapkan. Diam seperti apakah itu ?

Diam yang menjadikan si pintar segan, dan jadikan si bodoh hormat. Diam dari perkataan yang jikalau diungkap, tidak berguna bagi duniamu dan juga tidak menambah bagi agamamu..

Tidak sedikitpun ku berniat menggurui dan menjadikanmu 'pendiam' wahai diri. Aku hanya mengajak kepada diam dari perdebatan, hujatan dan ungkapan hina, karena dulu Beliau pernah berkata,

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam..."

Sungguh, Nabi-mu dulu bukanlah sang pendiam. Hanya saja diamnya beliau adalah hikmah, dan jikapun bicara, semua perkataan adalah kebenaran untuk meluruskan peradaban. Itu saja.

~Dari jiwa teruntuk diri yang kesulitan menjaga lisan..~ #lisan