Selasa, 28 November 2017

Antara Facebook dan Blog

Beberapa bulan belakangan sepertinya saya senang sekali menikmati tulisan para penulis kreatif yang sekarang ini banyak beredar di FB, baik itu berupa tulisan di status, ataupun yang di posting lewat fanpage. Saya menikmati karena tulisan yang hanya terdiri dari beberapa paragraf tersebut bisa disajikan sederhana, sehingga tidak harus mikir lama untuk mengerti. Yang menarik lainnya adalah poin yang disampaikan juga cendrung sesuai dengan kondisi kekinian.

Entah mengapa muncul saja pertanyaan di kepala saya. Mengapa para penulis tersebut tidak menuangkan kembali tulisan mereka lewat blog? Menurut saya seperti ini disayangkan saja, karena tulisan pencerahan tersebut akan tenggelam oleh status-status yang baru, apalagi jika sudah berumur tahunan. Tentunya akan susah ditelusuri kembali dan gampang terlupakan.

Hemat saya, mungkin ini bisa jadi pertimbangan bagi penulis di FB. Tujuannya agar bagaimana tulisan lama itu mudah diakses lagi bagi yang butuh. Terserah bagaimana teknisnya. Apakah itu menulis langsung di blog kemudian baru di bagikan lewat FB, atau bisa juga dengan membackup tulisan-tulisan yang di telah posting di FB tersebut di blog yang sudah disiapkan sebelumnya.

Ini hanya pendapat saya pribadi. Maksud saya disini hanya agar bagaimana tulisan-tulisan tersebut bisa lebih terkelola dengan baik, dan penulis pun bisa tetap lekat terus di hati pembaca. :)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Lemah Kemauan

"Orang kurang akal dinamai bodoh. Orang yang tidak ada rasa kasihan dinamai kejam. Tetapi orang yang tidak ada kemauan, tidak patut diberi nama manusia lagi. Banyak yang jatuh sengsara, melarat, hina, dan papa, dan bila diselidiki ternyata penyebab yang paling besar yang menimpa dirinnya tersebut adalah tidak punya kemauan. Mereka tidak tau bagaimana cara berdiri tegak dalam memperjuangkan hidup. Bukan karena kurang pertolongan, tapi karena kekurangan kekuatan. Pertolongan cukup, kekuatan penuh, dan lapangan perjuangan maha luas. Cuma dia tidak mau menempuh, sehingga akhir perjalanannya adalah menuju lobang yang dia gali sendiri."

Paragraf diatas bukan kata atau dari pemikiran saya, tapi dari Buya Hamka. Keras sekali. Tapi kalau di inok-inokan lagi, benar apa yang beliau disampaikan itu. Tidak bertele-tele, tapi pas ! Semoga Allah merahmatimu Buya..

Kamis, 05 Oktober 2017

Bukan Menjadikanmu Pendiam

Dalam kesemrawutan, diam itu berharga seperti emas, namun berat diterapkan. Diam seperti apakah itu ?

Diam yang menjadikan si pintar segan, dan jadikan si bodoh hormat. Diam dari perkataan yang jikalau diungkap, tidak berguna bagi duniamu dan juga tidak menambah bagi agamamu..

Tidak sedikitpun ku berniat menggurui dan menjadikanmu 'pendiam' wahai diri. Aku hanya mengajak kepada diam dari perdebatan, hujatan dan ungkapan hina, karena dulu Beliau pernah berkata,

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam..."

Sungguh, Nabi-mu dulu bukanlah sang pendiam. Hanya saja diamnya beliau adalah hikmah, dan jikapun bicara, semua perkataan adalah kebenaran untuk meluruskan peradaban. Itu saja.

~Dari jiwa teruntuk diri yang kesulitan menjaga lisan..~ #lisan


Senin, 04 September 2017

Memurnikan Amal

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Barangsiapa yang memurnikan amal, dia pun akan di jernihkan kondisinya. Dan barang siapa yang mengeruhkan amal, dia pun akan dikeruhkan. Orang yang berbuat baik di waktu malamnya, dia akan diberi kecukupan disiang harinya. Sedangkan orang yang berbuat baik di waktu siangnya, dia akan dicukupkan pada malam harinya.”

Seorang Syaikh mengelilingi majelis dan berkata, “Barang siapa yang ingin diberi kesehatan berkelanjutan, hendaknya dia bertaqwa kepada Allah.”

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Sungguh aku benar-benar bermaksiat kepada Allah, lalu aku bisa mengenal hal tersebut tercermin pada kelakuan tunggangan dan budak perempuanku.”

Kapan saja engkau melihat kondisimu suram, maka ingatlah ada nikmat yg tidak engkau syukuri, atau adanya kesalahan yang engkau kerjakan.

Abu Ali ar-Rudzbati berkata, “Termasuk ketertipuan diri kala engkau berbuat buruk, lalu Allah berbuat baik padamu dan engkau tak mau bertaubat; karena menyangka bahwa dirimu telah dimaafkan dalam kesalahanmu itu.”

Sumber, Hal.11