Senin, 04 September 2017

Memurnikan Amal

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Barangsiapa yang memurnikan amal, dia pun akan di jernihkan kondisinya. Dan barang siapa yang mengeruhkan amal, dia pun akan dikeruhkan. Orang yang berbuat baik di waktu malamnya, dia akan diberi kecukupan disiang harinya. Sedangkan orang yang berbuat baik di waktu siangnya, dia akan dicukupkan pada malam harinya.”

Seorang Syaikh mengelilingi majelis dan berkata, “Barang siapa yang ingin diberi kesehatan berkelanjutan, hendaknya dia bertaqwa kepada Allah.”

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Sungguh aku benar-benar bermaksiat kepada Allah, lalu aku bisa mengenal hal tersebut tercermin pada kelakuan tunggangan dan budak perempuanku.”

Kapan saja engkau melihat kondisimu suram, maka ingatlah ada nikmat yg tidak engkau syukuri, atau adanya kesalahan yang engkau kerjakan.

Abu Ali ar-Rudzbati berkata, “Termasuk ketertipuan diri kala engkau berbuat buruk, lalu Allah berbuat baik padamu dan engkau tak mau bertaubat; karena menyangka bahwa dirimu telah dimaafkan dalam kesalahanmu itu.”

Sumber, Hal.11

Sabtu, 02 September 2017

Sebab Datangnya Hukuman

Terbetik dalam benakku suatu pemikiran mengenai berbagai musibah berat dan ujian besar yang sering terjadi menimpa banyak orang di alam semesta ini, yang berkesudahan pada puncak klimaksnya yang sangat rumit.

Aku pun mengatakan, “Subhanallah ! Sungguh, Allah adalah Yang Maha Pemurah diantara yang bermurah hati, dan konsekwensi kemurahan adalah mau memberi maaf. Maka ada apa di balik hukuman ini?” Maka aku pun memikirkannya.

Maka aku tahu bahwa hukuman – meski berat sekalipun, masih ringan dibanding perbuatan dosa mereka.

Apabila turun suatu hukuman untuk membersihkan dosa, maka orang yang meminta pertolongan berteriak, “Duhai, karena dosa apakah ini terjadi ?!” Dia lupa dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat hingga membuat bumi ikut bergoncang !

Terkadang seorang yang sudah renta diperlakukan dengan hina pada masa tua, sehingga hati manusia menaruh iba kepadanya. Dia tidak tahu bahwa hal itu terjadi dikarenakan dia telah meremehkan hak Allah Ta’ala pada masa mudanya.

Jadi, kapanpun engkau melihat seorang yang tengah mendapat hukuman, ketahuilah bahwa itu dikarenakan dosa.

----------------------------

Ibnul Jauzi, Mukhtasar Shaidul Khaithir, diintisarikan oleh : DR.Ahmad bin Utsman al-Mayzad (Hal.10). Penerbit Darul Haq.


Jumat, 01 September 2017

Style Komunikasi Imam Ahmad

Diriwayatkan oleh seorang sejarahawan muslim; bahwa Ibnu Abi Du'ad, seorang ahli ilmun kalam yang beraliran Muktazilah berhasil menjadikan Khalifah al-Watsiq menjadi pengikut pahamnya. Diantara pemahaman sekte ini adalah pemahaman yang beranggapan bahwa Alquran itu adalah makhluk, sebagaimana makhluk ciptaan-Nya lainnya.

Ideologi tersebut nyata-nyata menyelesihi kebenaran, karena menyelisihi seluruh dalil Alquran atau as-Sunnah. Dengan jelas dinyatakan dalam dua sumber hukum Islam itu bahwa Alquran adalah kalamullah (perkataan Allah), dan bukan makhluk. Sebagaimana salah satu buktinya adalah firman-Nya berikut :

"Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah, kemudian antarkan ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui." (QS. At-Taubah [9]:6)

Karena sudah terpengaruh ideologi Muktazilah ini, al-Watsiq memerintahkan seluruh rakyatnya agar rakyatnya turut menyakini akidah tersebut. Siapa saja yang menyelisihinya akan dipenjara atau bahkan dibunuh. Namun kebijakan Khalifah tersebut tidaklah dapat menggugah ideologi para ulama Ahlus Sunnah kala itu. Mereka dengan tegar menolak ideologi ini dengan segala resikonya. Diantara ulama yang menolak ideologi ini adalah Ahmad bin Hambal, sehingga dia pun dipenjara.

Dikarenakan Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ulama dan tokoh terkemuka di masyarakat, khalifah tidak langsung mengeksekusinya. Al-Watsiq memberikan kesempatan kepada beliau untuk beragumentasi dengan penasihat spritualnya, Ibnu Abi Du'ad. Mereka lalu dipertemukan untuk berdiskusi terkait masalah Alquran itu adalah makhluk atau kalam Allah.

Pada awal diskusi, Ibnu Abi Du'ad langsung bertanya kepada Ahmad bin Hanbal : "Syaikh, apa pendapatmu tentang Alquran ?" "Sungguh kamu tidak adil, akulah yang sepantasnya bertanya lebih dulu." sahut sang imam. Merasa mantap dengan ideologinya, penasihat al-Watsiq pun menyanggupinya, "Silahkan mengajukan pertanyaan."

Maka Imam Ahmad bertanya, "Apa keyakinanmu tentang Alquran ?" "Alquran adalah makhluk," jawab Ibnu Abi Du'ad. Imam kembali bertanya, "Apakah keyakinanmu ini diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka, ataukah ini suatu yang belum mereka ketahui?" "Ideologi ini belum mereka ketahui," jawab si penasihat. Lantas sang imam menimpali dengan jawabannya dengan menyatakan: "Subhanallah ! Layakkah kamu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka ?"

Mendengar pertanyaan tersebut Ibnu Abi Du'ad hanya bisa tertunduk malu. Lalu demi menjaga wibawanya di hadapan Khalifah al-Watsiq, dia meminta diberi kesempatan untuk meralat jawaban sebelumnya kepada Imam Ahmad; "Berilah aku kesempatan untuk meralat jawaban terakhirku dengan tetap mempertahankan ide besarnya." Imam Ahmad sama sekali tidak keberatan, bahkan langsung mempersilahkannya.

Pertanyaan yang dimaksud pun diulang kembali oleh Imam Ahmad: "Apa keyakinanmu tentang Alquran ?" "Alquran adalah makhluk," jawab Ibnu Abi Du'ad. Imam kembali bertanya, "Apakah keyakinanmu ini diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka, ataukah ini suatu yang belum mereka ketahui?" "Ideologi ini sudah mereka ketahui," Lantas sang Imam menimpali dan bertanya lebih lanjut: "Menurutmu para khalifah mengetahui ideologi ini, namun faktanya mereka tidak pernah menyerukan kepada masyarakat untuk menyakininya?" Tanpa pikir panjang pertanyaan ini dijawab: "Ya, benar demikian." Kemudian persetujuan ini ditanggappi dengan pertanyaan tajam; "Jika demikian adanya, tidakkah kamu dapat bersikap sebagaimana mereka bersikap ?"

Mendengar tanggapan Imam Ahmad tersebut, Al-Watsiq segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pindah keruang lain untuk berbaring. Sambil menenangkan diri Khalifah bergumam : "Menurutmu ideologi ini tidak diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka, tetapi kamu mengetahuinya? Subhanallah, benar-benar aneh. Andaipun ideologi ini diketahui oleh para khalifah, namun faktanya mereka tidak pernah menyeru masyarakat untuk meyakininya. Kalapun ideologi ini benar, kenapa kamu tidak bersikap sebagaimana mereka bersikap ?"

Seusai merenungi dialog kedua ulama tadi, Khalifah al-Watsiq memerintahkan agar Imam Ahmad dibebaskan. Bahkan sebelum diizinkan pulang, Khalifah memberinya uang sejumlah 400 dinar. Sedangkan penasihat spritualnya, Ibnu Abi Du'ad, sejak hari itu dikucilkan. Sejak hari itu tidak seorangpun lagi dari masyarakat yang dipaksa meyakini ideologi sesat tersebut. [1]

Allahu Akbar ! Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah telah mengakhiri lembaran kelam sejarah umat Islam yang hidup dalam tekanan dan intimidasi penganut paham Muktazilah. Keberhasilan ini berawal dari upaya menyamakan pola pikir dalam berkomunikasi, sehingga tercapailah kesimpulan benar yang selaras dengan akidah Islam yang di dakwahkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Sumber (hal.124-126)

---------------------------------------------
[1] Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi (IV/151-152) dan Siyar A'Alamin Nubula' karya adz-Dzahabi (11/313)

Rabu, 30 Agustus 2017

Sebelum Bicara !

"Apabila kamu hendak shalat maka shalatlah seakan-akan kamu hendak berpindah (mati). Dan janganlah kamu ucapkan perkataan yang esok hari kamu merasa perlu meminta maaf atasnya." [HR. Ahmad & Ibnu Majah]

Berdasarkan keterangan hadist tersebut, beberapa orang bijak berpetuah : “Tiga indikator kesempurnaan seseorang : (1) menimbang setiap ucapan sebelum disampaikan, (2) menjauhi perkataan yang perlu di klarifikasi kemudian, dan (3) tidak berkomunikasi dengan orang pandir meskipun demi menjaga perasaannya.” [Al-Faidhul Qadir, karya al-Munawi (III/117)]  #lisan

Jumat, 20 Januari 2017

Blog dan Peningkatan Penjualan

Blog itu memang unik karena cendrung sesuai dengan karakter si pemilik blog. Umumnya blog banyak digunakan sebagai brand dengan tujuannya beragam, seperti sarana menyampaikan ide, curhat, jualan atau untuk kebutuhan lainnya.

Seperti kejadian sekitar 7 atau 8 bulan lewat, dimana saya pernah menyarankan ke salah seorang saudara saya agar beliau bikin blog saja, sekaligus sebagai sarana marketing atas usaha yang sedang rintis. Usaha yang beliau geluti itu adalah jual-beli mobil bekas dan juga agen lepas untuk pemasaran properti. Alhamdulillah, walaupun terkadang ada beberapa kendala, kalau dilihat tren perbulan, usaha tersebut sudah mulai stabil dan terus menunjukkan peningkatan penjualan.

Dengan alasan itulah saya mempromosikan ke saudara saya tersebut agar mau memanfaatkan blog dan terus aktif mengelolanya. Maksud saya, setidaknya blog tersebut bisa lebih memudahkan proses promosi dan pengenalan produk jika dibandingkan hanya menggunakan instant messanger dalam memasarkan produk yang ditawarkan.

Setelah saya jelaskan secara mendetil, beliau setuju karena ide saya itu dianggap memang menarik. Sederhana saja. Misalnya selama ini beliau hanya jualan melalui WhatsApp dan BBM, dengan blog akan menjadi lebih praktis dengan jangkauan lebih banyak. Jualan dengan WhatsApp dan BBM ini jelas akan merepotkan karena harus melakukan pengiriman gambar produk secara satu-persatu ke masing-masing kontak calon costumer (pengecualian jika ada grup khusus untuk calon pelanggan tersebut).

Sebagai bentuk apresiasi, saya langsung menyiapkan langsung blog tersebut setelah sebelumnya membeli sebuah domain dengan brand usaha, yang insya Allah nanti akan di legalkan dalam bentuk badan hukum resmi. Untuk platform saya menggunakan blogger, mengingat untuk sementara fungsi blog tersebut hanya sebagai penyebaran informasi dan pemberitahuan saja. Cukup posting ulasan detil lengkap dengan foto-foto produk yang akan ditawarkan, kemudian sebarkan link postingan tersebut melalui ke WhatsApp, BBM dan Facebook, maka proses pemberitahuan pun beres.

Kemudahan lainnya adalah gambar-gambar yang tersimpan di HP bisa langsung dihapus sehingga tidak memberatkan dan bisa menghemat memori. Selain itulebih memudahkan dalam mendokumentasikan dan menelusuri kembali postingan tentang produk yang sudah ditawarkan maupun yang telah terjual.

Setelah berjalan beberapa bulan, Alhamdulillah banyak komentar dan tanggapan positif beliau peroleh. Blog baru tersebut berhasil mengundang daya tarik sendiri di kalangan rekan-rekan beliau, relasi ataupun para pelanggan. Beliau juga merasakan manfaat yang diperoleh melebihi menggunakan media sosial untuk sekedar urusan jualan. Selain itu, dengan blog lebih bebas mengungkapkan segala sesuatu. Jadi bisa diibaratkan bahwa blog itu adalah sosmed yang sebenarnya, sementara itu FB dan seluruh instant messanger yang digunakan hanyalah sebagai alat penyebaran saja.

Dalam pengelolaan, saudara saya tersebut tidak mutlak memposting produk-produk yang akan ditawarkan saja, tetapi kadang diselingi juga dengan opini dan berbagai tutorial yang masih tetap berkaitan dengan produk yang dijual. Misalnya tentang bagaimana tips mengetahui kondisi kelayakan sebuah mobil yang akan dibeli dan semisalnya, atau tips mengenai pembelian, interior, eksterior dan hal-hal spesifik dari sebuah properti. Kadang juga beliau berbagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan motivasi dan pengembangan diri berdasarkan pengalamanyang telah diperoleh selama ini.

Nah, itulah beberapa manfaat yang bisa diperoleh langsung dengan mengelola sebuah blog, Harapan saya, dengan adanya blog tersebut semoga akan semakin meluaskan jangkauan usaha dan menjadikannya cepat berkembang. Tidak itu saja, semoga dengan apa-apa yang telah diusahakan selama ini bisa memberikan inspirasi dan meningkatkan semangat wirausaha bagi banyak orang.