Tampilkan postingan dengan label Shaidul Khatir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shaidul Khatir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2020

Buah dari Manisnya Ketaatan dan Buruknya Maksiat

Adapun yang terjadi di dunia maka setiap orang yang zalim akan dikenai siksa di akhirat kelak. Demikian pula dengan orang yang berbuat dosa. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى :

مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ

"Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu." (An-Nisa " 123)

Mungkin saja seorang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat, lalu dia menyangka tidak ada hukuman atas perbuatannya. Padahal kelengahan dari hukuman yang ditimpakan itu adalah hukuman.

Orang-orang bijak berkata, "Maksiat setelah maksiat merupakan hukuman dari maksiat. Sedangkan kebaikan setelah kebaikan merupakan pahala dari kebaikan tersebut."

Bisa saja hukuman didunia itu bersifat maknawi (bukan hukuman yang bersifat materi atau fisik). Sebagaimana dengan apa yang dikatakan ulama Bani Israil, "Wahai Tuhanku, berapa banyak aku bermaksiat kepada-Mu, dan Engkau tidak menghukumku !". Maka dijawab, "Berapa banyak Aku menghukummu, namun engkau tidak tahu ! Bukankah aku telah menghalangimu dari nikmatnya bermunajat kepada-Ku ?"

Maka barangsiapa yang mencermati jenis hukuman ini, niscaya dia dapatkan jenis hukuman ini menantinya. Betapa banyak orang yang menjadikan pandangannya liar, lalu Allah mengharamkan mata hatinya untuk mengambil pelajaran. Atau orang yang tidak mengendalikan lidahnya, lalu Allah menghalanginya dari kejernihan hatinya. Atau orang yang lebih mendahulukan hal yang syubhat dalam makanannya, lalu hatinya menjadi gelap, tidak bisa mendirikan shalat malam dan terhalang dari manisnya munajat.., dan hal-hal lain yang serupa. Ini adalah hal yang diketahui oleh orang yang mengintrospeksi dirinya (muhasabah).

"Sesungguhnya seorang hamba akan benar-benar terhalang dari rezki dikarenakan dosa yang dia perbuat." (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Hal seperti ini bila direnungkan oleh yang punya mata hati, maka dia akan bisa melihat balasan dan memahaminya. Sebaimana dengan yang dikatakan oleh al-Fudhail, "Sungguh aku benar-benar bermaksiat kepada Allah, lalu aku mengetaui hal itu tercermin dalam perilaku tungganganku dan perangai budak perempuanku."


Sumber : Hal 24

Selasa, 27 Februari 2018

Jagalah Rahasiamu

Aku melihat banyak orang tidak kuasa menyebar rahasia meraka. Kalau rahasia mereka menjadi tampak, merekapun mencela orang yang memberitakannya.

Sungguh aneh ! Bagaimana mereka bisa merasa berat untuk menyimpan rahasianya dan merasa gusar dengan orang yang menyebarkannya ?

Sungguh.. jiwa ini memang susah menyembunyikan sesuatu, dan merasa nyaman membocorkan rahasianya, terlebih lagi bila itu merupakan penyakit, kegundahan, atau kerinduan. Mereka beranggapan ini semua wajar bila dibocorkan. Yang harus dirahasiakan adalah sesuatu siasat dari seseorang yang ingin dia realisasikan untuk tujuan tertentu. Karena dengan membocorkan sebelum semua terwujud dengan sempurna, maka gagallah apa yang ingin mereka wujudkan. Dan tidak ada udzhur (alasan) bagi orang yang menyebarkan berita seperti ini.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri bila ingin melakukan sesuatu perjalanan (untuk berperang), beliau menyamarkan hal tersebut dan menampakkan hal selainnya. {Muttafaq ‘alaihi, diriwayatkan oleh Bukhari No.2947, Muslim No.2769}

Bila ada yang berkata, “Aku hanya menceritakan kepada orang yang terpercaya.” Maka dikatakan kepadanya, “Semua pembicaraan melebihi dua orang itu sudah tersebar beritanya. Bisa saja orang yang engkau beritahukan itu tidak bisa menyembunyikan rahasiamu.

Orang yang pikirannya mantab itu adalah orang rahasianya tidak tersebar kepada lainnya, dan dia juga tidak menyebarkannya kepada siapapun.”

Menutupi musibah termasuk dalam menyembunyikan rahasia, karena menampakkannya akan membuat senang musuh dan orang yang dengki. Sementara itu hal tersebut akan membuat orang yang mencintainya sedih dan berduka.

Mungkin seseorang melihat keikhlasan dan ketulusan dari temannya, lalu ia menyebarkan rahasianya. Dalam sebuah syair disenandungkan ;

Waspadalah terhadap musuh satu kali...
Tapi takutlah terhadap temanmu seribu kali...
Karena mungkin saja si teman berbalik menjadi musuh..
Maka dia lebih tahu dengan titik-titik yang akan mencelakakanmu…

Sumber Hal.136 #lisan

Senin, 04 September 2017

Memurnikan Amal

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Barangsiapa yang memurnikan amal, dia pun akan di jernihkan kondisinya. Dan barang siapa yang mengeruhkan amal, dia pun akan dikeruhkan. Orang yang berbuat baik di waktu malamnya, dia akan diberi kecukupan disiang harinya. Sedangkan orang yang berbuat baik di waktu siangnya, dia akan dicukupkan pada malam harinya.”

Seorang Syaikh mengelilingi majelis dan berkata, “Barang siapa yang ingin diberi kesehatan berkelanjutan, hendaknya dia bertaqwa kepada Allah.”

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Sungguh aku benar-benar bermaksiat kepada Allah, lalu aku bisa mengenal hal tersebut tercermin pada kelakuan tunggangan dan budak perempuanku.”

Kapan saja engkau melihat kondisimu suram, maka ingatlah ada nikmat yg tidak engkau syukuri, atau adanya kesalahan yang engkau kerjakan.

Abu Ali ar-Rudzbati berkata, “Termasuk ketertipuan diri kala engkau berbuat buruk, lalu Allah berbuat baik padamu dan engkau tak mau bertaubat; karena menyangka bahwa dirimu telah dimaafkan dalam kesalahanmu itu.”

Sumber, Hal.11

Sabtu, 02 September 2017

Sebab Datangnya Hukuman

Terbetik dalam benakku suatu pemikiran mengenai berbagai musibah berat dan ujian besar yang sering terjadi menimpa banyak orang di alam semesta ini, yang berkesudahan pada puncak klimaksnya yang sangat rumit.

Aku pun mengatakan, “Subhanallah ! Sungguh, Allah adalah Yang Maha Pemurah diantara yang bermurah hati, dan konsekwensi kemurahan adalah mau memberi maaf. Maka ada apa di balik hukuman ini?” Maka aku pun memikirkannya.

Maka aku tahu bahwa hukuman – meski berat sekalipun, masih ringan dibanding perbuatan dosa mereka.

Apabila turun suatu hukuman untuk membersihkan dosa, maka orang yang meminta pertolongan berteriak, “Duhai, karena dosa apakah ini terjadi ?!” Dia lupa dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat hingga membuat bumi ikut bergoncang !

Terkadang seorang yang sudah renta diperlakukan dengan hina pada masa tua, sehingga hati manusia menaruh iba kepadanya. Dia tidak tahu bahwa hal itu terjadi dikarenakan dia telah meremehkan hak Allah Ta’ala pada masa mudanya.

Jadi, kapanpun engkau melihat seorang yang tengah mendapat hukuman, ketahuilah bahwa itu dikarenakan dosa.

----------------------------

Ibnul Jauzi, Mukhtasar Shaidul Khaithir, diintisarikan oleh : DR.Ahmad bin Utsman al-Mayzad (Hal.10). Penerbit Darul Haq.