9/01/2017

Style Komunikasi Imam Ahmad

Diriwayatkan oleh seorang sejarahawan muslim; bahwa Ibnu Abi Du'ad, seorang ahli ilmun kalam yang beraliran Muktazilah berhasil menjadikan Khalifah al-Watsiq menjadi pengikut pahamnya. Diantara pemahaman sekte ini adalah pemahaman yang beranggapan bahwa Alquran itu adalah makhluk, sebagaimana makhluk ciptaan-Nya lainnya.

Ideologi tersebut nyata-nyata menyelesihi kebenaran, karena menyelisihi seluruh dalil Alquran atau as-Sunnah. Dengan jelas dinyatakan dalam dua sumber hukum Islam itu bahwa Alquran adalah kalamullah (perkataan Allah), dan bukan makhluk. Sebagaimana salah satu buktinya adalah firman-Nya berikut :

"Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah, kemudian antarkan ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui." (QS. At-Taubah [9]:6)

Karena sudah terpengaruh ideologi Muktazilah ini, al-Watsiq memerintahkan seluruh rakyatnya agar rakyatnya turut menyakini akidah tersebut. Siapa saja yang menyelisihinya akan dipenjara atau bahkan dibunuh. Namun kebijakan Khalifah tersebut tidaklah dapat menggugah ideologi para ulama Ahlus Sunnah kala itu. Mereka dengan tegar menolak ideologi ini dengan segala resikonya. Diantara ulama yang menolak ideologi ini adalah Ahmad bin Hambal, sehingga dia pun dipenjara.

Dikarenakan Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ulama dan tokoh terkemuka di masyarakat, khalifah tidak langsung mengeksekusinya. Al-Watsiq memberikan kesempatan kepada beliau untuk beragumentasi dengan penasihat spritualnya, Ibnu Abi Du'ad. Mereka lalu dipertemukan untuk berdiskusi terkait masalah Alquran itu adalah makhluk atau kalam Allah.

Pada awal diskusi, Ibnu Abi Du'ad langsung bertanya kepada Ahmad bin Hanbal : "Syaikh, apa pendapatmu tentang Alquran ?" "Sungguh kamu tidak adil, akulah yang sepantasnya bertanya lebih dulu." sahut sang imam. Merasa mantap dengan ideologinya, penasihat al-Watsiq pun menyanggupinya, "Silahkan mengajukan pertanyaan."

Maka Imam Ahmad bertanya, "Apa keyakinanmu tentang Alquran ?" "Alquran adalah makhluk," jawab Ibnu Abi Du'ad. Imam kembali bertanya, "Apakah keyakinanmu ini diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka, ataukah ini suatu yang belum mereka ketahui?" "Ideologi ini belum mereka ketahui," jawab si penasihat. Lantas sang imam menimpali dengan jawabannya dengan menyatakan: "Subhanallah ! Layakkah kamu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka ?"

Mendengar pertanyaan tersebut Ibnu Abi Du'ad hanya bisa tertunduk malu. Lalu demi menjaga wibawanya di hadapan Khalifah al-Watsiq, dia meminta diberi kesempatan untuk meralat jawaban sebelumnya kepada Imam Ahmad; "Berilah aku kesempatan untuk meralat jawaban terakhirku dengan tetap mempertahankan ide besarnya." Imam Ahmad sama sekali tidak keberatan, bahkan langsung mempersilahkannya.

Pertanyaan yang dimaksud pun diulang kembali oleh Imam Ahmad: "Apa keyakinanmu tentang Alquran ?" "Alquran adalah makhluk," jawab Ibnu Abi Du'ad. Imam kembali bertanya, "Apakah keyakinanmu ini diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka, ataukah ini suatu yang belum mereka ketahui?" "Ideologi ini sudah mereka ketahui," Lantas sang Imam menimpali dan bertanya lebih lanjut: "Menurutmu para khalifah mengetahui ideologi ini, namun faktanya mereka tidak pernah menyerukan kepada masyarakat untuk menyakininya?" Tanpa pikir panjang pertanyaan ini dijawab: "Ya, benar demikian." Kemudian persetujuan ini ditanggappi dengan pertanyaan tajam; "Jika demikian adanya, tidakkah kamu dapat bersikap sebagaimana mereka bersikap ?"

Mendengar tanggapan Imam Ahmad tersebut, Al-Watsiq segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pindah keruang lain untuk berbaring. Sambil menenangkan diri Khalifah bergumam : "Menurutmu ideologi ini tidak diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan seluruh khalifah setelah mereka, tetapi kamu mengetahuinya? Subhanallah, benar-benar aneh. Andaipun ideologi ini diketahui oleh para khalifah, namun faktanya mereka tidak pernah menyeru masyarakat untuk meyakininya. Kalapun ideologi ini benar, kenapa kamu tidak bersikap sebagaimana mereka bersikap ?"

Seusai merenungi dialog kedua ulama tadi, Khalifah al-Watsiq memerintahkan agar Imam Ahmad dibebaskan. Bahkan sebelum diizinkan pulang, Khalifah memberinya uang sejumlah 400 dinar. Sedangkan penasihat spritualnya, Ibnu Abi Du'ad, sejak hari itu dikucilkan. Sejak hari itu tidak seorangpun lagi dari masyarakat yang dipaksa meyakini ideologi sesat tersebut. [1]

Allahu Akbar ! Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah telah mengakhiri lembaran kelam sejarah umat Islam yang hidup dalam tekanan dan intimidasi penganut paham Muktazilah. Keberhasilan ini berawal dari upaya menyamakan pola pikir dalam berkomunikasi, sehingga tercapailah kesimpulan benar yang selaras dengan akidah Islam yang di dakwahkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Sumber (hal.124-126)

---------------------------------------------
[1] Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi (IV/151-152) dan Siyar A'Alamin Nubula' karya adz-Dzahabi (11/313)

Kirim Komentar Anda