Selasa, 23 Juni 2020

Dijual Tanah Lokasi Strategis Khatib Sulaiman Padang

Lokasi di belakang kantin SD Islam Al-Azhar (Jln. Khatib Sulaiman - Kota Padang)
Kontak : +628116600885 (Ari), atau +4917640170615 (Bapak Arfianda - Jerman) atau Klik Disini

Denah & Lokasi :






Minggu, 27 Januari 2019

Telegram Dan Arsip


Seperti yang pernah saya posting sebelumnya, "Telegram Mantab!", semenjak saya kenal aplikasi aplikasi ini, ada satu kelebihan yang membuat saya semakin betah saja, sehingga saya tidak ikut-ikutan uninstall, seperti apa yang dilakukan oleh beberapa teman yang beranggapan bahwa aplikasi ini tidak terlalu berfungsi bagi mereka.

Disini saya hanya cerita sedikit kalau salah satu daya tarik utama aplikasi ini adalah kemudahan pengguna untuk menyimpan file dalam jumlah banyak dan berukuran besar. Termasuk itu file format foto, audio ataupun video. Disamping ringan ketika dijalankan, aplikasi ini juga berukuran kecil, sehingga tidak begitu terkendala lagi dengan hp yang memiliki memori terbatas.

Di Telegram ini saya menyimpan file pekerjaan, materi pelajaran audio dan video, ataupun catatan-catatan penting lainnya. Sementara itu, untuk berbagi file pun juga sangat mudah. Cukup hanya dengan menyiapkan sebuah channel khusus, kemudian kita undang atau tambahkan langsung orang yang dituju untuk bergabung, selesai. Setelah itu kita hanya mengubah pengaturan, apakah channel baru tersebut bersifat terbuka atau tertutup, sesuai dengan keperluan untuk apa channel tersebut disiapkan.

Jadi bagi rekan yang memang sudah menggunakan Telegram, tidak ada juga salahnya memanfaatkan aplikasi tersebut sebagai sarana penyimpanan / arsip file alternatif. Lumayan, dengan kapasitas sebesar 1,5Gb / file, dimana setahu saya belum ada satupun aplikasi sejenis yang menyediakan fungsi seperti ini. Pengelolaan file cukup hanya melalui pesan tanpa harus takut pengiriman data putus ditengah jalan.

Eh iya, kemarin saya sempat tanya respon seorang teman tentang sebuah channel tertutup yang sengaja disiapkan untuk backup materi pelajaran online yang kami ikuti bersama, ternyata beliau merasa terbantu sekali. Intinya, sungguh kita merasa telah dimudahkan, itu saja. :)

Jumat, 11 Januari 2019

Butuh Kesabaran

Menuntut ilmu itu bukan perkara mudah. Sebab ia adalah jalan menuju surga, bahkan jalan tercepat. Sedangkan surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci syahwat manusia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

"Surga diliputi oleh sesuatu yang dibenci sedangkan neraka diliputi oleh syahwat." (HR. Muslim: 7308)


Banyak orang yang awalnya bersemangat dalam menuntut ilmu, tapi dengan silih bergantinya hari tak sedikit yang akhirnya putus di tengah jalan.

Imam Ibnu Mubarak pernah menuturkan:

"Aku dan Ibrahim bin Adham keluar dari kota Khurasan, kami berjumlah 60 orang pemuda untuk menuntut ilmu. Tidak ada yang mendapatkan (ilmu) selain aku." (Hilyah al-Auliya’ 7/369)

Kemana yang lain? Apa sebabnya? Entahlah, namun yang jelas salah satunya karena tidak mampu terus bersabar.

Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran yang tinggi, pengorbanan, serta semangat membaja. Tanpa itu mustahil seorang memperoleh ilmu.

Semoga kita semua diberi kesabaran oleh Allah untuk menuntut ilmu ini.

Catatan :
Didapat dari pesan whatsapp kiriman seorang teman, namun tidak mencantumkan sumbernya dari mana. Saya belum mendapatkan tentang kebenaran tulisan diatas. Terlepas siapapun penulisnya, sepertinya tulisan tersebut bisa menjadi inspirasi.

Sabtu, 23 Juni 2018

Penting Menjadi Perhatian

Kadang kita semangat sekali dalam membahas agama dan segala sesuatu yang terkait dengan Islam. Lebih dari itu, kita hobi debat yang tak berkesudahan. Entah itu kita benar-benar menguasai ilmu tetang permasalahan tersebut, entah kita hanya paham setengah-setengah, kemudian bicara agama dengan nalar dan logika. Kadang juga kita terlalu berlebihan ke amalan-amalan sunnah tertentu dan gampang meremehkan amalan orang lain.

Namun, ada kalanya kita kurang awas ketika adzan berkumandang. Tak jarang juga kita menganggap adzan itu sebagai suatu hal yang biasa saja, sehingga kita sering terlambat ke mesjid dan tidak mendapatkan takbir. Ketika shalat sedang berlangsung, tanpa kita sadari kita sering membiarkan pikiran menerawang. Selesai shalat, kitapun tak luput dari ketegesa-gesaan.

Tidakkah ini harus menjadi perhatian lebih?

Sungguh, tidak ada keutamaan ibadah apapun melainkan shalat wajib yang harus kita tunaikan sesempurna mungkin.

Selasa, 27 Februari 2018

Jagalah Rahasiamu

Aku melihat banyak orang tidak kuasa menyebar rahasia meraka. Kalau rahasia mereka menjadi tampak, merekapun mencela orang yang memberitakannya.

Sungguh aneh ! Bagaimana mereka bisa merasa berat untuk menyimpan rahasianya dan merasa gusar dengan orang yang menyebarkannya ?

Sungguh.. jiwa ini memang susah menyembunyikan sesuatu, dan merasa nyaman membocorkan rahasianya, terlebih lagi bila itu merupakan penyakit, kegundahan, atau kerinduan. Mereka beranggapan ini semua wajar bila dibocorkan. Yang harus dirahasiakan adalah sesuatu siasat dari seseorang yang ingin dia realisasikan untuk tujuan tertentu. Karena dengan membocorkan sebelum semua terwujud dengan sempurna, maka gagallah apa yang ingin mereka wujudkan. Dan tidak ada udzhur (alasan) bagi orang yang menyebarkan berita seperti ini.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri bila ingin melakukan sesuatu perjalanan (untuk berperang), beliau menyamarkan hal tersebut dan menampakkan hal selainnya. {Muttafaq ‘alaihi, diriwayatkan oleh Bukhari No.2947, Muslim No.2769}

Bila ada yang berkata, “Aku hanya menceritakan kepada orang yang terpercaya.” Maka dikatakan kepadanya, “Semua pembicaraan melebihi dua orang itu sudah tersebar beritanya. Bisa saja orang yang engkau beritahukan itu tidak bisa menyembunyikan rahasiamu.

Orang yang pikirannya mantab itu adalah orang rahasianya tidak tersebar kepada lainnya, dan dia juga tidak menyebarkannya kepada siapapun.”

Menutupi musibah termasuk dalam menyembunyikan rahasia, karena menampakkannya akan membuat senang musuh dan orang yang dengki. Sementara itu hal tersebut akan membuat orang yang mencintainya sedih dan berduka.

Mungkin seseorang melihat keikhlasan dan ketulusan dari temannya, lalu ia menyebarkan rahasianya. Dalam sebuah syair disenandungkan ;

Waspadalah terhadap musuh satu kali...
Tapi takutlah terhadap temanmu seribu kali...
Karena mungkin saja si teman berbalik menjadi musuh..
Maka dia lebih tahu dengan titik-titik yang akan mencelakakanmu…

Sumber Hal.136 #lisan